NIR

NIR

/i

jarum jam telah lebih dulu gegas. jauh sebelum pesan pendekmu tak nampak juga di beranda ini. aku masih menunggui bintang dan kemungkinannya jatuh tepat didoaku.

serupa santiago dan harihari selepas juni. bebal lebih sejati menjadi. melawat sia dan tabah yang kalah sudah.

sungguh. pernikahan tak sebercanda itu, sayang.

 

/ii

perihal mama dan papa dan keluarga dan dunia; bahwa hidup melulu kudu nan menerus utuh

ya ya ya… selain buku, kita harus punya banyak anak. namun kita tak harus mengucap janji pernikahan yang dimatamu begitu indah itu. ah. janji memang milik sesiapa saja yang menyiasati. namun tak ada yang pernah benarbenar bisa menyepakati.

dan perjalanan dan percakapan dan kepercayaan dan kepedihan dan kehilangan dan keniscayaan dan ritusritus lainnya buat cemas ini kian resah saja.

serupa anakanak rencana, kita mencandui mimpi pada akhirnya

pada harapan dan senoktah diorama

pada wibisana yang njelma surga bagi wisrawa

 

maka pada apakah kembalimu,

 

bila segala yang nyata ialah angan yang kelana; ialah sia yang nyala; ialah dusta yang meraja; ialah kuasa yang rencana; ialah surga yang fana

sebab segala terang telah tertera

dan sukesi yang dengan sesetia itu menenun kepulangan

 

/iii

aku masih njelma nir di pesan pendekmu

 

/iv

jarum jam telah lebih dulu gegas. jauh sebelum pesan pendekmu tak nampak juga di beranda ini. kau masih menunggui bintang dan kemungkinannya jatuh tepat didoamu. sayang. begitu naif nan daif sempurna sudah. temani ikrar kita yang basah sudah. ah.

 

: lelakiku, setelah ini semua lantas apa?

 

 

*280716 | 15:55

SPEKTAKEL

SPEKTAKEL

darinya saya belajar percaya

; bahwa ada yang hidup pada ruang orasi, namun segala tak lebih dari sekadar sensasi

; bahwa ada yang gemar mengumbar empati, namun pada tagar dan wacana viral mereka bersembunyi

; bahwa ada yang tekun menjumpai ruang kesenian, namun abai pada tangisan dan jeritan

; bahwa ada yang begitu menghamba pada bukubuku, namun aksinya tertambat pada utopia melulu

; bahwa ada yang begitu mengagungkan literasi, namun tak kuasa memamerkan foto diri bersama pernakpernik fotografi; kacamata-buku-cangkir kopi-kafe catchy

; bahwa ada yang berbuih mengatasnama kemanusiaan, namun laku hidupnya tak beda dengan nafsu kebinatangan

; bahwa ada yang katanya tulus mencintai, namun hatinya tergadai pada pelukan, ciuman, dan selangkangan

; bahwa ada yang katanya tulus beragama, namun begitu deru mendamba warga surga

darinya saya belajar menerima kenyataan

; bahwa tak ada yang benarbenar sonder pretensi sonder tendensi

darinya saya telah diingatkan

; bahwa menemu kebenaran selamanya haruslah melewati keperihan

 

*060816 | 12:51

BEBAL

BEBAL

ada yang belum sempat terucapkan,

namun katakata kelewat dusta

 

ada yang belum sempat dituntaskan,

namun waktu kelewat kelu

 

ada yang belum sempat dipastikan,

namun percaya kelewat celaka

 

ada yang belum sempat dipuisikan,

namun kita kelewat luka

 

 

*140616 | 10:30

 

https://steller.co/s/5q7WaVjw65j

 

 

DAN KETAKUTAN KETAKUTAN ITU

DAN KETAKUTAN KETAKUTAN ITU

 

Hey, ada apa denganmu? Apa aku adalah monster pemakan tumbuhan seperti yang ada di aplikasi mainan adikku? Apa aku adalah mimpi buruk yang selalu mengganggu tidurmu? Atau aku semacam simbol masa lalu yang begitu ingin diberantas oleh para petinggi negeri yang susah move on dan bilang maaf itu?

Ketakutan seperti apakah, sayang.

Bersembunyilah sejenak, bahkan lama sekalipun. Sama sekali aku tak mengapa. Sebab waktu dan aku telah berkawan karib. Ya, tentu saja. Kami dipertemukan oleh puisi.

Bersembunyilah,

disebalik mata wanitamu yang bagimu sungguh merupa candu itu

Tentang gemuruh di dada ini, biar aku yang mengurusnya. Beruntung aku masih punya puisi. Dia kawan dan lawan yang seimbang buatku. Dan aku tak pernah khawatir akan kehilangannya, Sebab aku masih punya percaya bahwa meski pergi, padaku puisi akan kembali pada akhirnya. Sebab aku masih punya keberanian untuk masih punya percaya.

[sialnya],

pun terhadapmu.

 

 

*060616 | 07:07

PUISI KUTUKAN PENYAIR: KUTUKAN DAN MAKIAN YANG TERTUNDA

PUISI KUTUKAN PENYAIR: KUTUKAN DAN MAKIAN YANG TERTUNDA

-asal kau tahu
satu alasanku menulis puisi-puisi adalah
untuk bertemu denganmu ; tak ada yang lain
kugunakan ia sebagai alat
untuk memangkas jarak diantara kita
sehingga kita lekas bertemu kembali
[EF lazuardo, “Puisi Kutukan Penyair”]

 

Lama sudah saya memiliki mimpi, bahwa saya akan konsisten “curhat” setiap setelah saya menghabiskan halaman terakhir sebuah buku. Tapi mimpi selamanya akan jadi mimpi dan hanya mimpi bila kau tak bersegera bangun dan mencuci muka. Ya, mengapa tak dimulai dengan karya milik kawan sendiri, begitu pikir saya. Maka jatuh pilihan pada Puisi Kutukan Penyair. Kebetulan, ada beberapa kebetulan yang mengiringi terciptanya “curhat”an ini.

 
Tiga hari yang lalu: Senin malam masih pukul 20:32 ketika saya tengah menikmati John Mayer dan ketika Puisi Kutukan Penyair tetiba hadir minta permisi. Adalah biru; yang membimbing ke-tiba-tiba-an saya tersebut. Saya penyuka jazz –bila tak boleh dibilang penyuka John Mayer- Tiap menikmatinya, saya ngerasa adem, semacam di-netral-kan kembali, dan tiap kali itu pulalah saya teringat biru –warna yang menurut saya juga adem– Saat itulah kemudian terlintas buku puisi dengan kertas di bagian dalam berwarna biru langit [;buku cetakan kedua, saya beruntung kehabisan cetakan pertama kerna kertas cetakan pertama rupanya berwarna putih tulang membosankan] berisi huruf huruf lawas mesin ketik -yang saya miliki beberapa pekan silam.

 

Tanpa berpanjang pikir, saya silakan Puisi Kutukan Penyair mencuri stok permisi saya. Sembari melahap perfectly lonely, free fallin’, your body is a wonderland, gravity, dan playlist John lainnya, saya mencoba membaca EF Lazuardo dan Ariza Yuan Ardias lewat Puisi Kutukan Penyair -selanjutnya disingkat PKP-, buku antologi puisi mereka.

 

Saya baca sekali habis. Dan… buku ini belum berhasil membuat saya mengutuk dan memaki. Setidaknya, untuk minimal sekali mengucap asu.

 

Ya. Setiap setelah selesai menghabiskan halaman terakhir sebuah buku, saya punya kebiasaan buruk mengucap asu, dua kali. Asu pertama ialah kerna buku tersebut memanglah membuat saya speechless dan tak dapat berkata-kata, selain asu tentu saja. Dalam artian, menurut saya, buku tersebut bagus. Pada makian pertama, arti asu laiknya arti subhanallah bagi saya. [wehehe.. siyap siyap digerebek ormas nih]

 

Asu kedua lebih saya tujukan kepada diri saya sendiri. Mengapa saya keduluan. Mengapa bukan saya yang memiliki ide cerita seperti itu. Mengapa saya belum bisa menulis sebagus itu. Asu. Yah, begitu kira-kira maksud dari makian saya yang kedua.

 

Membaca PKP, saya belum sepenuhnya menemukan kesegaran dalam penciptaan diksi, imaji dan metafor. Tengoklah bait terakhir “Masih di Sampingmu” atau “Pesan Seorang Ibu tentang Keresahan Kepada Anaknya” berikut ini

 

dan kau pun semakin erat/menggenggam jemariku/ku masih di sampingmu/jangan kau bersedih/
[EF lazuardo, “Masih di Sampingmu”]

aku tak mau bercerita/biar waktu yang nanti/menjelaskan saja/
[EF lazuardo, “Pesan Seorang Ibu tentang Keresahan Kepada Anaknya”]

 

Tak sedikit yang kemudian tidak meninggalkan jejak apapun dalam benak pembacaPenggunaan dan pemilihan kata, bahasa, imaji, dan metafora masih klise, sehingga kurang muncul suatu harmonisasi antara bentuk dan pesan yang akan disampaikan. Maka yang niscaya adalah pesan tidak dapat dipahami secara utuh. Hal ini tentu sangat disayangkan. Begitulah yang terjadi pada puisi “Wakil yang Tampak Bahagia”

 

Kejadian yang terbingkai dengan pusara api/ditengah kata-kata menyeberang dari ketidakbaikan/menuju dewan wakil kerja/Bekerja menuai rumput/menunggu kekosongan ketika menatap matahari/Dan jarak yang dihitung menjadikan ia wakil/yang mengecup tangis dengan menjadikan mereka/anak-anak/
[Afriza Yuan Ardias, “Wakil yang Tampak Bahagia”]

 

Pada PKP, tak sedikit saya temui gaya-gaya kepenulisan macam penggalan puisi diatas; penuh dengan amanat dan gagasan-gagasan besar, namun kurang diolah dan diterjemahkan menjadi deskripsi yang, sayangnya, baik antarparagraf, kalimat, baris, atau bahkan kata, belum memiliki koherensi. Ndak sinkron. Kerna beberapa itulah, tak sedikit puisi-puisi dari PKP ini batal jadi karya yang bagus. Yah, bagus, tapi masih parsial.

 

Keterpengaruhan, kemudian menjadi catatan penting yang ingin saya “curhat”kan disini. Saya menemukan M Aan Mansyur, Widji Thukul, dan Chairil Anwar pada beberapa puisi di PKP, misalnya pada “Sabarlah, Nak” dan “Melihat Kumpulan Eksploitasi”

 

Sabarlah nak, dirimu bukan artis pembuat berita/Tentangmu adalah peluru-peluru tajam menghunjam/menusuk telinga pimpinan kursi hingga tiada bunyi/Sabarlah nak, tentangmu yang larut dari doa hingga/merana disengaja sampai membungkam prosuk penjual derita/menjadi eksploitasi/
[Afriza Yuan Ardias, “Sabarlah Nak”]

Dirimu merupakan tempat singgah yang ingin ku lupa/pada padanan kata sifat dan kata kerja/Dari tubuh yang menjadikan sawah yang bekerja/dari tepi langit yang dikunjungi matahari/hingga korporasi mengunyah langit menyentuh kaki/bulan berdenyut/
[Afriza Yuan Ardias, “Melihat Kumpulan Eksploitasi”]

 

Banyak dari kita yang mengamini bahwa untuk menjadi seorang penulis yang haibat kita jugalah mesti menjadi pembaca yang tekun. Sedikit-banyak apa yang dibaca kemudian terefleksi melalui karya yang dihasilkan. Namun keterpengaruhan acapkali menjadi momok, terlebih bagi penulis pemula -sangat mungkin termasuk saya-. Barangkali tak apa. Anggaplah hal tersebut sebagai proses menemukan gaya kepenulisan sendiri. Proses menuju menjadi. Hingga kemudian mampu berucap ini diksi gueh. Huehehe…

 

Saya sampai pada puisi “Wejangan” ketika Bg~ John mendendangkan lagu kebangsaannya, Gravity. Ada semacam perasaan tersentak ketika sampai pada akhir puisi tersebut

 

Le, besok kamu harus jadi/pemimpin yang baik/besok harus lebih sukses/harus lebih bijaksana/lha bapak pripun?/
[EF lazuardo, “Wejangan”]

 

Ada semacam paradoks yang coba dihadirkan, lengkap dengan satire dan pleidoi yang lebih diasosiasikan oleh penyair melalui “sang anak”. Ketersentakan ini saya rasakan pula pada baris akhir “Biji yang tumbuh menjadi puisi”

 

Maka membacalah!/Baca!/dan jadi manusia/
[EF lazuardo, “Biji yang tumbuh menjadi puisi”]

 

Saya meyakini, bahwa kejujuran akan sebuah pengakuan bisa datang melalui kata-kata, melalui puisi. Dan sesuatu yang paling berjasa besar ialah keberanian. Keberanian untuk menuliskannya, tentu saja. Dan saya kian meyakini itu ketika meresapi “Untuk laut dan orang orang yang hidup di atasnya” serta “Kartini Menggugat”.

 

Kami berjalan bererot/bertelanjang kaki menyeret sambuk/dari pantaike pantai/ laiknya yang lain, bernegosiasi dengan lautan/………./yang kami lemparkan beserta doa-doa yang jerangkah/yang kami yakini bergutuk/di mana doa-doa itu kami barter/dengan ikan-ikan pedalaman/
[EF Lazuardo, “Untuk Laut dan Orang-orang yang Hidup di atasnya”]

 

Oh iya, sebelum menyelesaikan ide/Mendadak Emmy dan Cut Nyak berkunjung dan memeluk pintu/Mereka menampar cemas pada ujung penghabisandengan sisa letupan di tangan/Sedangkan aku?/Aku hanya melintas dengan mata bercahaya/menjatuhkan ide dengan buku dan berhasil laku/
[Afriza Yuan Ardias, “Kartini Menggugat”]

 

Dan mereka, duo maut ini, berhasil untuk tak hanya membaca buku, sebagai upaya mengisi bekal kosakata maupun wawasan puitik, namun juga membaca keadaan. Begitulah yang saya rasa dan temui di banyak puisi-puisi pada PKP. Dan, oh ya, jangan lupakan satu hal. Adanya ilustrasi gambar dari puisi-puisi yang dilahirkan, yang juga dibuat oleh mereka sendiri, tentu menjadi kredit poin tersendiri bagi buku ini.

 

Baiklah, meski berat, rupanya saya perlu menunda kutukan serta makian saya. Dan sebagai seorang kawan cum adeq kelas yang baik, saya sudahi saja “curhat”an ini. Kalau banyak-banyak, saya khawatir Mz Mz Duo Maut ini justru jadi terpacu untuk belajar dan lebih tekun dalam menulis supaya puisi-puisinya menjadi lebih bernas dan kemudian melupakan [baca: tidak sengaja lupa] fungsi utamanya sebagai mahasiswa tingkat syalala. Hiks.

 

Oh ya, mengenai penggalan puisi yang saya sematkan di paling awal tulisan ini; saya suka. dah gitu ja~

 

 

Himas Nur,
penikmat kerja kebudayaan yang nyambi belajar jadi bu guru.

DI KOTA INI ORANGORANG TERLAMPAU MUDAH MENJADI PENYAIR

DI KOTA INI ORANGORANG TERLAMPAU MUDAH MENJADI PENYAIR

 

duh,

janganlah kau terkena penyakit gumunan begitu, sayang

jangan kerna matamu dibikinkan puisi, kau lantas merasa menemu surga

tengoklah,

di kota ini orangorang terlampau mudah menjadi penyair

cukup dengan mencipta puisi pedesaan, perkotaan, atau genre puisi nyeleneh lainnya sembari sesekali sumbang muka dan baca puisi pada pameran kesenian disanasini

cukup dengan pamer buku dan comot namanama besar sebagai penghias tulisan sembari sesekali menyoal isu minor yang tengah menjadi viral

ya ya begitulah. bila beruntung, julukan aktivis akan sama mudahnya tuk diperoleh

jadi,

janganlah kau terkena penyakit gumunan begitu, sayang

jangan kerna matamu dibikinkan puisi, kau lantas merasa menemu surga

lihatlah,

di kota ini orangorang terlampau mudah menjadi penyair

cukup dengan menulis puisi bernada peduli dan mengatasnama kemanusiaan, maka panggung penuh sorot lampu menjelma keniscayaan

sayang, tak ada yang pernah benarbenar bisa merasai empati kalau tak pernah benarbenar mengalami sendiri

bila antara tulisan dan perbuatan tak sejalan, maka segala tak lebih dari omongkosong-

laiknya hubungan kita. aih,

     hingga berapa purnama lagi mesti kunanti kedalaman matamu?

ya ya begitulah. ini bukan film, sayang. jujurlah. berbekal katakata, cinta tak pernah sejati menjadi

maka,

janganlah kau terkena penyakit gumunan begitu, sayang

jangan kerna matamu dibikinkan puisi, kau lantas merasa menemu surga

sadarilah,

di kota ini orangorang terlampau mudah menjadi penyair

oh bukan… tentu bukan. aku tak sedang membicarakan lelakimu,

yang penyair itu

tentu saja. aku tak bisa seromantis lelakimu, yang penyair itu, bilamana olehnya, matamu yang candu mampu beralih menjadi puisi syahdu,

     aku selalu jatuh cinta pada matamu. mata yang menggenggam malam. mata yang merupa kekunang.

ya ya begitulah. sungguh dahsyat puisi lelakimu, yang penyair itu. dan aku yang tak kuasa mengingkari itu

duh,

namun bila kau kira tulisan ini lahir kerna pedihku sebab kau jatuh pada lelakimu, yang penyair itu, aku bisa apa

masihkah paham belum kau temui juga

kala aku menulis A maka aku sedang berbicara A’

kala aku menulis A’ maka aku tak sedang berbicara A’

 

begitulah enigma bekerja, sayang. belum cukupkah bukubuku itu untuk menjadikanmu Alan Turing,

barang sejenak saja?

 

*140616 | 21:16

LELAKI DAN SEBUAH PAGI

LELAKI DAN SEBUAH PAGI

 

ini juni. dan puisi jadi lebih gerimis setelah ini. sebab pagi telah jadi pembuka paling nyana bagi tiap kehadiran. pun kau yang begitu setia menggenggam malam. maka tibalah percakapan pada sudut paling kemarau. tempat segala mata memupuk haus akan telaga.

ini juni. dan pagi jadi lebih gerimis setelah ini. sebab puisi maksa hadir lebih dini. menubuat tiap tiap percakapan. perihal malam yang susah tidur. dan rasi rasi seperti melihat dioramanya sendiri. di ufuk paling palung kau-ku

ini juni. dan pagi jadi lebih gerimis setelah ini. sebab kisah masih menyisakan perihnya; padamu dan ketiadaan. Maka berbahagialah segala ke-tak-mengapa dan ke-tak-apa-an. sebab demikianlah, bagimu tumbuh dan menerus luruh.

ini juni. dan kenangan jadi lebih gigil setelah ini.

 

*090615