ANTARA AKUKAU DAN GIGIL ITU

ANTARA AKUKAU DAN GIGIL ITU

semoga diammu-diamku ialah jalan menuju september yang dulu. bukan diam yang menyebabkan rindu terhenti.

bukan diam yang sebenarbenarnya mati.

 

*2015

Iklan

NIR

NIR

/i

jarum jam telah lebih dulu gegas. jauh sebelum pesan pendekmu tak nampak juga di beranda ini. aku masih menunggui bintang dan kemungkinannya jatuh tepat didoaku.

serupa santiago dan harihari selepas juni. bebal lebih sejati menjadi. melawat sia dan tabah yang kalah sudah.

sungguh. pernikahan tak sebercanda itu, sayang.

 

/ii

perihal mama dan papa dan keluarga dan dunia; bahwa hidup melulu kudu nan menerus utuh

ya ya ya… selain buku, kita harus punya banyak anak. namun kita tak harus mengucap janji pernikahan yang dimatamu begitu indah itu. ah. janji memang milik sesiapa saja yang menyiasati. namun tak ada yang pernah benarbenar bisa menyepakati.

dan perjalanan dan percakapan dan kepercayaan dan kepedihan dan kehilangan dan keniscayaan dan ritusritus lainnya buat cemas ini kian resah saja.

serupa anakanak rencana, kita mencandui mimpi pada akhirnya

pada harapan dan senoktah diorama

pada wibisana yang njelma surga bagi wisrawa

 

maka pada apakah kembalimu,

 

bila segala yang nyata ialah angan yang kelana; ialah sia yang nyala; ialah dusta yang meraja; ialah kuasa yang rencana; ialah surga yang fana

sebab segala terang telah tertera

dan sukesi yang dengan sesetia itu menenun kepulangan

 

/iii

aku masih njelma nir di pesan pendekmu

 

/iv

jarum jam telah lebih dulu gegas. jauh sebelum pesan pendekmu tak nampak juga di beranda ini. kau masih menunggui bintang dan kemungkinannya jatuh tepat didoamu. sayang. begitu naif nan daif sempurna sudah. temani ikrar kita yang basah sudah. ah.

 

: lelakiku, setelah ini semua lantas apa?

 

 

*280716 | 15:55

BEBAL

BEBAL

ada yang belum sempat terucapkan,

namun katakata kelewat dusta

 

ada yang belum sempat dituntaskan,

namun waktu kelewat kelu

 

ada yang belum sempat dipastikan,

namun percaya kelewat celaka

 

ada yang belum sempat dipuisikan,

namun kita kelewat luka

 

 

*140616 | 10:30

 

https://steller.co/s/5q7WaVjw65j

 

 

DAN KETAKUTAN KETAKUTAN ITU

DAN KETAKUTAN KETAKUTAN ITU

 

Hey, ada apa denganmu? Apa aku adalah monster pemakan tumbuhan seperti yang ada di aplikasi mainan adikku? Apa aku adalah mimpi buruk yang selalu mengganggu tidurmu? Atau aku semacam simbol masa lalu yang begitu ingin diberantas oleh para petinggi negeri yang susah move on dan bilang maaf itu?

Ketakutan seperti apakah, sayang.

Bersembunyilah sejenak, bahkan lama sekalipun. Sama sekali aku tak mengapa. Sebab waktu dan aku telah berkawan karib. Ya, tentu saja. Kami dipertemukan oleh puisi.

Bersembunyilah,

disebalik mata wanitamu yang bagimu sungguh merupa candu itu

Tentang gemuruh di dada ini, biar aku yang mengurusnya. Beruntung aku masih punya puisi. Dia kawan dan lawan yang seimbang buatku. Dan aku tak pernah khawatir akan kehilangannya, Sebab aku masih punya percaya bahwa meski pergi, padaku puisi akan kembali pada akhirnya. Sebab aku masih punya keberanian untuk masih punya percaya.

[sialnya],

pun terhadapmu.

 

 

*060616 | 07:07

DI KOTA INI ORANGORANG TERLAMPAU MUDAH MENJADI PENYAIR

DI KOTA INI ORANGORANG TERLAMPAU MUDAH MENJADI PENYAIR

 

duh,

janganlah kau terkena penyakit gumunan begitu, sayang

jangan kerna matamu dibikinkan puisi, kau lantas merasa menemu surga

tengoklah,

di kota ini orangorang terlampau mudah menjadi penyair

cukup dengan mencipta puisi pedesaan, perkotaan, atau genre puisi nyeleneh lainnya sembari sesekali sumbang muka dan baca puisi pada pameran kesenian disanasini

cukup dengan pamer buku dan comot namanama besar sebagai penghias tulisan sembari sesekali menyoal isu minor yang tengah menjadi viral

ya ya begitulah. bila beruntung, julukan aktivis akan sama mudahnya tuk diperoleh

jadi,

janganlah kau terkena penyakit gumunan begitu, sayang

jangan kerna matamu dibikinkan puisi, kau lantas merasa menemu surga

lihatlah,

di kota ini orangorang terlampau mudah menjadi penyair

cukup dengan menulis puisi bernada peduli dan mengatasnama kemanusiaan, maka panggung penuh sorot lampu menjelma keniscayaan

sayang, tak ada yang pernah benarbenar bisa merasai empati kalau tak pernah benarbenar mengalami sendiri

bila antara tulisan dan perbuatan tak sejalan, maka segala tak lebih dari omongkosong-

laiknya hubungan kita. aih,

     hingga berapa purnama lagi mesti kunanti kedalaman matamu?

ya ya begitulah. ini bukan film, sayang. jujurlah. berbekal katakata, cinta tak pernah sejati menjadi

maka,

janganlah kau terkena penyakit gumunan begitu, sayang

jangan kerna matamu dibikinkan puisi, kau lantas merasa menemu surga

sadarilah,

di kota ini orangorang terlampau mudah menjadi penyair

oh bukan… tentu bukan. aku tak sedang membicarakan lelakimu,

yang penyair itu

tentu saja. aku tak bisa seromantis lelakimu, yang penyair itu, bilamana olehnya, matamu yang candu mampu beralih menjadi puisi syahdu,

     aku selalu jatuh cinta pada matamu. mata yang menggenggam malam. mata yang merupa kekunang.

ya ya begitulah. sungguh dahsyat puisi lelakimu, yang penyair itu. dan aku yang tak kuasa mengingkari itu

duh,

namun bila kau kira tulisan ini lahir kerna pedihku sebab kau jatuh pada lelakimu, yang penyair itu, aku bisa apa

masihkah paham belum kau temui juga

kala aku menulis A maka aku sedang berbicara A’

kala aku menulis A’ maka aku tak sedang berbicara A’

 

begitulah enigma bekerja, sayang. belum cukupkah bukubuku itu untuk menjadikanmu Alan Turing,

barang sejenak saja?

 

*140616 | 21:16