Deras yang menderap tak hendak menghentikan laju saya menuju kawasan Kota Lama Semarang, tepatnya di Impala Space. Tentu bukan tanpa alasan. Ya, Saya ingin menjemput AriReda!

AriReda sedang dalam perjalanan yang mereka beri tagar #TurMenungguKemarau, dan beruntung, kota saya disinggahi oleh mereka. Beruntung pula saya sempat bertukar cakap dengan Bang Ari, satu dari dua pentolan AriReda. (((pentolan))) -_-

Ketika itu panggung sedang dihuni oleh band folk asal tuan rumah, Beach and The Blue Sky. Dan saya kebetulan masih enggan beranjak dari sofa empuk dekat front desk ataupun turut duduk berdesakan dengan penonton di space yang telah disediakan. Disitulah saya bertemu dengan blio. Sofa yang empuk dan lumayan lebar itu memuat setidaknya empat orang. Kebetulan sisi kanan saya masih kosong sementara sisi yang lain telah dihuni oleh pantat kekasih saya -_-

Bang Ari, yang entah tiba-tiba datang darimana, meminta izin untuk mengisi sisi kanan saya, ehe. Tentu saja saya meng-iya-kan! Dalam hati saya senyum jahat. Ha-ha liat tuh kalian di dalem lagi pada desak desakan nungguin, tapi Babang Arinya lagi sama eug wek~

Pertama, yang dilakukan blio setelah mengempaskan tubuhnya ke sisi kanan saya ialah… merogoh tote-bag dan mengeluarkan chiki dari dalamnya. Iya, chiki, chips-taro, micin, atau apalah itu namanya. Pokoknya di kemasan depan ada gambar Raffi-Gigi nya. Blio tentu saja menawari saya. Btw ena lho. He-he. Tapi alunan kriuk-kriuk itu tak berlangsung lama. Bang Ari memasukkan kembali penganan unfaedah tsb ke dalam tote-bag nya. Babak Kedua pun dimulai.

Potong kuku. Ya. Sembari melihat bagaimana seorang gitaris kondang, motong kuku, saya menyimak kisah blio. Jadi, Bang Ari berkisah bahwa di suatu malam sebelum ia pentas, kukunya tiba-tiba saja sobek. Alhasil blio harus berlatih dengan dua jari, begitu terangnya. Berkat pengalaman itulah, barangkali kini ia lebih rajin merapikan kukunya sebelum naik pentas. Iseng saya bertanya, Bg~ Ari ni sebenernya lebih ke musik atau sastranya Bg? “Oh kalo saya ya lebih ke musiknya, Reda itu yang lebih paham ke sastra dan lain-lainnya.” Tapi kebanyakan puisi-puisinya Sapardi ya Bg yang dimusikalisasiin. “Iya, kami dekat dengan Sapardi.” Iseng lagi saya bertanya, kalau penyair-penyair muda gitu ada yang dimusikalisasiin juga ngga sama AriReda, Bg?. “Ada kok, ada, itu… si Aan Mansyur puisinya juga ada yang kami buat.” Oohhh…

Ketiga, Beach and The Blue Sky sudah selesai. Saya pikir ini waktunya saya untuk menyimak AriReda dan Aku Ingin-nya SDD. “Habis ini berarti Bang Ari ya?” Oh engga, nanti si Tony dulu. Hah. Siapa itu Tony?.  Jadi, menurut keterangan blio, si Tony atau lengkapnya Tony Memmel and His Band ialah satu band country dari Amerika. “Mereka juga lagi tur dan ngajak kami buat gabung, begitu terang Bang Ari. Di Lokananta, Salatiga, terus juga disini kami bareng, tapi habis dari Semarang nanti kami pisah, karena kami akan lanjut tur ke Malang, dan mereka di kota yang berbeda.”

Berdasar cerita dari Bang Ari pula, saya kemudian tahu bahwa Tony Memmel and His Band itu adalah grup musik pemenang ajang semacam festival jalanan di Amerika. Mereka kemudian dibiayai oleh negara untuk melalukan tur keliling dunia dengan tujuan memerkenalkan budaya mereka melalui musik. Wow! Kalau disini Bg? He-he.

Seraya tersenyum dan sedikit tawa kecil, Bang Ari berujar, “disini ya mana ada.” Semuanya sendiri, apa-apa jalan sendiri. “Musik, industri kreatif macam begini ini ya mana dibiayai, mereka ya jalan sendiri,” lanjutnya sambil menunjuk gerai merchandise dan beberapa pernak pernik seni di sekitar tempat kami bercengkerama. “Pemerintah di sini itu sebenarnya enak. Rakyatnya udah bisa jalan sendiri-sendiri,” senyum Bang Ari tampak lebih lebar dari sebelumya.

Dududududud.

Seketika gemas. Narasi klasik yang tak habis-habis dibahas. Sungguh quingin udud, tuhan.

Keempat, Bang Ari mulai mengeluarkan gitar mini akustiknya. Entah model gitar macam apa itu sa ndak paham. Beruntung di sisi kiri saya, ada seorang kekasih yang termasuk golongan orang-orang yang paham gitar dan senang memainkan musik-musik macam Breaking Benjamin, The Gazette, Alterbridge, dan alternative rock atau metal-metalan lainnya.

Setengah berbisik saya beralih ke sisi kiri saya, itu yang ada di gitarnya apa sih, kok bentuknya kayak aplikasi yang ada di hapemu pas kamu juga lagi nyetel si Dinky (nama gitar milik kekasih saya-red). Alhasih, dari ma-luv itulah kemudian saya tahu kalau yang lagi diutak-atik Bang Ari itu adalah tuner yang nempel di pojokan kiri gagang gitarnya. He-he.

Tony Memmel and His Band sebentar lagi selesai. Pun Blio telah selesai pula dengan main-main gitar dan tunernya. Sebelum hendak bersiap dan beranjak, saya memberanikan diri dengan berujar, nanti mbawain ‘ketika jari-jari bunga terbuka’ kan Bg~ Blio kemudian benar benar beranjak. Seraya tersenyum, Bang Ari melenggang dan meninggalkan saya dengan sepatah-dua katanya yang bikin dada saya penuh tak karuan; “Nanti teriak aja.”

 

*231117 | 23:22

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s