MEMBANGUN DINASTI

 

panggung bukan lagi jadi tempat sandiwara

sebab disinilah sebenarnya akting berbicara

berbagai topeng beragam merek

maka jangan salahkan kami

bila kami lebih peduli

pada dota, line, instagram, siwon, dan rvp

dan kami akan jadi lebih setia membesarkan bibit ini

tapi jangan alpa perihal kalianlah yang menanamkannya pada kami

 

bila semua sudah jadi terlanjur

dan keadaan diujung hancur

maka bangunlah suatu dinasti

bertindaklah sebagai pemuji kiri

maka kau akan dapat banyak simpati

sebab zaman kini orang lebih suka anti

namun kukatakan padamu katakata penting ini

selebihnya terserah ada pada dada sebelah kiri

 

: sebaiknya berguru dulu pada penyu air

sebelum menasbihkan diri sebagai penyair

 

 

PERIHAL SEJARAH DAN SEJENGKAL AJAL

: lawangsewu

 

senja wafat

jendela meruwat

kenangan jelma ruangan berpagut ngeri

mengunduh bebiji kecemasan yang datang dari

beranda rumahmu, temboktemboknya mengukir anyir dan getir

 

senja wafat

dikubur pekat dan nyenyap

satusatu semesta pergi menziarahi

selasar sejarah yang disodomi

 

 

SERUPA SAJAK YANG BEGITU LUGU MENAMAI SENJA, AKU MERINDUIMU

 

Aku merindui cerita dan bau tubuhmu, nang. Selengkap aku merindui waktu yang selalu datang lebih dulu. Kita yang begitu asik pada serenada. Menyerahkan segala pada semesta. Meski entah telah dengan setia menjemput asa. Nyatanya, tetap juga kita layangkan rasa.

Lengkung sabit di rautmu itu nang, mengingatkanku pada jingga yang setia menanti senja. Kita begitu lugu. Ketika napas menyisakan helanya di mesin mesin pencari. Maka lengkap sudah kita menjadi penjala. Bertukar seluka dan sesuka antara.

Aku merindui cerita dan bau tubuhmu, nang. Tepat ketika selasar berujung pada angka 98. Ranjang ini seketika jadi piatu. Malam pekat menggenang di beranda. Dan aku tak melihatmu, nang. Segalanya terbias merah. Gelap.

Nang, kurindui kau pada tiap detak sukma ini. Pada rahwana dan sinta yang sempat kau kisahkan padaku. Pada tanah ini, negeri yang telah mengenalkanku padamu. Yang telah dengan rela merekam jejak jantung kita. Yang telah mengembalikanku pada muasal segala.

Selamanya aku tak akan pernah paham, nang. Jejalan ini memang menjaring anakanak rencana. Namun kita menuju muara yang sama. Bukankah itu satu.

Katanya, ini reformasi. Dan segalanya akan jadi lebih baik setelah ini.

Entahlah nang. Hingga sia kunapasi kini, segalanya berumah pada mengapa. Untuk kesekian kalinya, aku tak peduli. Sebab bahagia kita yang tentukan.

Cukup satu yang perlu akukau pahami. Selalu akan kurindui cerita dan bau tubuhmu itu. Selalu, nang. Selalu.

 

 

MUNGKIN SEKALI KITA

 

mungkin sekali kita telah menua

ketika anakanak masih sibuk mengumpulkan pertanyaan

mungkin sekali kita telah memutih

ketika para ibu masih sibuk berkisah tentang negeri dongeng

mungkin sekali kita telah menjadi abu

ketika kehilangan jadi bentuk budaya baru

 

ketika rela sudah lebih purba mengeras di dinding nisan,

mungkin sekali kita telah sempurna menjadi batu!

 

 

Puisi-puisi diatas dapat pula ditemui di >> http://indoprogress.com/2016/03/puisi-puisi-himas-nur/

2 pemikiran pada “Puisi Himas Nur dalam LKIP IndoProgress Edisi 32

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s