darinya saya belajar percaya

; bahwa ada yang hidup pada ruang orasi, namun segala tak lebih dari sekadar sensasi

; bahwa ada yang gemar mengumbar empati, namun pada tagar dan wacana viral mereka bersembunyi

; bahwa ada yang tekun menjumpai ruang kesenian, namun abai pada tangisan dan jeritan

; bahwa ada yang begitu menghamba pada bukubuku, namun aksinya tertambat pada utopia melulu

; bahwa ada yang begitu mengagungkan literasi, namun tak kuasa memamerkan foto diri bersama pernakpernik fotografi; kacamata-buku-cangkir kopi-kafe catchy

; bahwa ada yang berbuih mengatasnama kemanusiaan, namun laku hidupnya tak beda dengan nafsu kebinatangan

; bahwa ada yang katanya tulus mencintai, namun hatinya tergadai pada pelukan, ciuman, dan selangkangan

; bahwa ada yang katanya tulus beragama, namun begitu deru mendamba warga surga

darinya saya belajar menerima kenyataan

; bahwa tak ada yang benarbenar sonder pretensi sonder tendensi

darinya saya telah diingatkan

; bahwa menemu kebenaran selamanya haruslah melewati keperihan

 

*060816 | 12:51

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s