-asal kau tahu
satu alasanku menulis puisi-puisi adalah
untuk bertemu denganmu ; tak ada yang lain
kugunakan ia sebagai alat
untuk memangkas jarak diantara kita
sehingga kita lekas bertemu kembali
[EF lazuardo, “Puisi Kutukan Penyair”]

 

Lama sudah saya memiliki mimpi, bahwa saya akan konsisten “curhat” setiap setelah saya menghabiskan halaman terakhir sebuah buku. Tapi mimpi selamanya akan jadi mimpi dan hanya mimpi bila kau tak bersegera bangun dan mencuci muka. Ya, mengapa tak dimulai dengan karya milik kawan sendiri, begitu pikir saya. Maka jatuh pilihan pada Puisi Kutukan Penyair. Kebetulan, ada beberapa kebetulan yang mengiringi terciptanya “curhat”an ini.

 
Tiga hari yang lalu: Senin malam masih pukul 20:32 ketika saya tengah menikmati John Mayer dan ketika Puisi Kutukan Penyair tetiba hadir minta permisi. Adalah biru; yang membimbing ke-tiba-tiba-an saya tersebut. Saya penyuka jazz –bila tak boleh dibilang penyuka John Mayer- Tiap menikmatinya, saya ngerasa adem, semacam di-netral-kan kembali, dan tiap kali itu pulalah saya teringat biru –warna yang menurut saya juga adem– Saat itulah kemudian terlintas buku puisi dengan kertas di bagian dalam berwarna biru langit [;buku cetakan kedua, saya beruntung kehabisan cetakan pertama kerna kertas cetakan pertama rupanya berwarna putih tulang membosankan] berisi huruf huruf lawas mesin ketik -yang saya miliki beberapa pekan silam.

 

Tanpa berpanjang pikir, saya silakan Puisi Kutukan Penyair mencuri stok permisi saya. Sembari melahap perfectly lonely, free fallin’, your body is a wonderland, gravity, dan playlist John lainnya, saya mencoba membaca EF Lazuardo dan Ariza Yuan Ardias lewat Puisi Kutukan Penyair -selanjutnya disingkat PKP-, buku antologi puisi mereka.

 

Saya baca sekali habis. Dan… buku ini belum berhasil membuat saya mengutuk dan memaki. Setidaknya, untuk minimal sekali mengucap asu.

 

Ya. Setiap setelah selesai menghabiskan halaman terakhir sebuah buku, saya punya kebiasaan buruk mengucap asu, dua kali. Asu pertama ialah kerna buku tersebut memanglah membuat saya speechless dan tak dapat berkata-kata, selain asu tentu saja. Dalam artian, menurut saya, buku tersebut bagus. Pada makian pertama, arti asu laiknya arti subhanallah bagi saya. [wehehe.. siyap siyap digerebek ormas nih]

 

Asu kedua lebih saya tujukan kepada diri saya sendiri. Mengapa saya keduluan. Mengapa bukan saya yang memiliki ide cerita seperti itu. Mengapa saya belum bisa menulis sebagus itu. Asu. Yah, begitu kira-kira maksud dari makian saya yang kedua.

 

Membaca PKP, saya belum sepenuhnya menemukan kesegaran dalam penciptaan diksi, imaji dan metafor. Tengoklah bait terakhir “Masih di Sampingmu” atau “Pesan Seorang Ibu tentang Keresahan Kepada Anaknya” berikut ini

 

dan kau pun semakin erat/menggenggam jemariku/ku masih di sampingmu/jangan kau bersedih/
[EF lazuardo, “Masih di Sampingmu”]

aku tak mau bercerita/biar waktu yang nanti/menjelaskan saja/
[EF lazuardo, “Pesan Seorang Ibu tentang Keresahan Kepada Anaknya”]

 

Tak sedikit yang kemudian tidak meninggalkan jejak apapun dalam benak pembacaPenggunaan dan pemilihan kata, bahasa, imaji, dan metafora masih klise, sehingga kurang muncul suatu harmonisasi antara bentuk dan pesan yang akan disampaikan. Maka yang niscaya adalah pesan tidak dapat dipahami secara utuh. Hal ini tentu sangat disayangkan. Begitulah yang terjadi pada puisi “Wakil yang Tampak Bahagia”

 

Kejadian yang terbingkai dengan pusara api/ditengah kata-kata menyeberang dari ketidakbaikan/menuju dewan wakil kerja/Bekerja menuai rumput/menunggu kekosongan ketika menatap matahari/Dan jarak yang dihitung menjadikan ia wakil/yang mengecup tangis dengan menjadikan mereka/anak-anak/
[Afriza Yuan Ardias, “Wakil yang Tampak Bahagia”]

 

Pada PKP, tak sedikit saya temui gaya-gaya kepenulisan macam penggalan puisi diatas; penuh dengan amanat dan gagasan-gagasan besar, namun kurang diolah dan diterjemahkan menjadi deskripsi yang, sayangnya, baik antarparagraf, kalimat, baris, atau bahkan kata, belum memiliki koherensi. Ndak sinkron. Kerna beberapa itulah, tak sedikit puisi-puisi dari PKP ini batal jadi karya yang bagus. Yah, bagus, tapi masih parsial.

 

Keterpengaruhan, kemudian menjadi catatan penting yang ingin saya “curhat”kan disini. Saya menemukan M Aan Mansyur, Widji Thukul, dan Chairil Anwar pada beberapa puisi di PKP, misalnya pada “Sabarlah, Nak” dan “Melihat Kumpulan Eksploitasi”

 

Sabarlah nak, dirimu bukan artis pembuat berita/Tentangmu adalah peluru-peluru tajam menghunjam/menusuk telinga pimpinan kursi hingga tiada bunyi/Sabarlah nak, tentangmu yang larut dari doa hingga/merana disengaja sampai membungkam prosuk penjual derita/menjadi eksploitasi/
[Afriza Yuan Ardias, “Sabarlah Nak”]

Dirimu merupakan tempat singgah yang ingin ku lupa/pada padanan kata sifat dan kata kerja/Dari tubuh yang menjadikan sawah yang bekerja/dari tepi langit yang dikunjungi matahari/hingga korporasi mengunyah langit menyentuh kaki/bulan berdenyut/
[Afriza Yuan Ardias, “Melihat Kumpulan Eksploitasi”]

 

Banyak dari kita yang mengamini bahwa untuk menjadi seorang penulis yang haibat kita jugalah mesti menjadi pembaca yang tekun. Sedikit-banyak apa yang dibaca kemudian terefleksi melalui karya yang dihasilkan. Namun keterpengaruhan acapkali menjadi momok, terlebih bagi penulis pemula -sangat mungkin termasuk saya-. Barangkali tak apa. Anggaplah hal tersebut sebagai proses menemukan gaya kepenulisan sendiri. Proses menuju menjadi. Hingga kemudian mampu berucap ini diksi gueh. Huehehe…

 

Saya sampai pada puisi “Wejangan” ketika Bg~ John mendendangkan lagu kebangsaannya, Gravity. Ada semacam perasaan tersentak ketika sampai pada akhir puisi tersebut

 

Le, besok kamu harus jadi/pemimpin yang baik/besok harus lebih sukses/harus lebih bijaksana/lha bapak pripun?/
[EF lazuardo, “Wejangan”]

 

Ada semacam paradoks yang coba dihadirkan, lengkap dengan satire dan pleidoi yang lebih diasosiasikan oleh penyair melalui “sang anak”. Ketersentakan ini saya rasakan pula pada baris akhir “Biji yang tumbuh menjadi puisi”

 

Maka membacalah!/Baca!/dan jadi manusia/
[EF lazuardo, “Biji yang tumbuh menjadi puisi”]

 

Saya meyakini, bahwa kejujuran akan sebuah pengakuan bisa datang melalui kata-kata, melalui puisi. Dan sesuatu yang paling berjasa besar ialah keberanian. Keberanian untuk menuliskannya, tentu saja. Dan saya kian meyakini itu ketika meresapi “Untuk laut dan orang orang yang hidup di atasnya” serta “Kartini Menggugat”.

 

Kami berjalan bererot/bertelanjang kaki menyeret sambuk/dari pantaike pantai/ laiknya yang lain, bernegosiasi dengan lautan/………./yang kami lemparkan beserta doa-doa yang jerangkah/yang kami yakini bergutuk/di mana doa-doa itu kami barter/dengan ikan-ikan pedalaman/
[EF Lazuardo, “Untuk Laut dan Orang-orang yang Hidup di atasnya”]

 

Oh iya, sebelum menyelesaikan ide/Mendadak Emmy dan Cut Nyak berkunjung dan memeluk pintu/Mereka menampar cemas pada ujung penghabisandengan sisa letupan di tangan/Sedangkan aku?/Aku hanya melintas dengan mata bercahaya/menjatuhkan ide dengan buku dan berhasil laku/
[Afriza Yuan Ardias, “Kartini Menggugat”]

 

Dan mereka, duo maut ini, berhasil untuk tak hanya membaca buku, sebagai upaya mengisi bekal kosakata maupun wawasan puitik, namun juga membaca keadaan. Begitulah yang saya rasa dan temui di banyak puisi-puisi pada PKP. Dan, oh ya, jangan lupakan satu hal. Adanya ilustrasi gambar dari puisi-puisi yang dilahirkan, yang juga dibuat oleh mereka sendiri, tentu menjadi kredit poin tersendiri bagi buku ini.

 

Baiklah, meski berat, rupanya saya perlu menunda kutukan serta makian saya. Dan sebagai seorang kawan cum adeq kelas yang baik, saya sudahi saja “curhat”an ini. Kalau banyak-banyak, saya khawatir Mz Mz Duo Maut ini justru jadi terpacu untuk belajar dan lebih tekun dalam menulis supaya puisi-puisinya menjadi lebih bernas dan kemudian melupakan [baca: tidak sengaja lupa] fungsi utamanya sebagai mahasiswa tingkat syalala. Hiks.

 

Oh ya, mengenai penggalan puisi yang saya sematkan di paling awal tulisan ini; saya suka. dah gitu ja~

 

 

Himas Nur,
penikmat kerja kebudayaan yang nyambi belajar jadi bu guru.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s