duh,

janganlah kau terkena penyakit gumunan begitu, sayang

jangan kerna matamu dibikinkan puisi, kau lantas merasa menemu surga

tengoklah,

di kota ini orangorang terlampau mudah menjadi penyair

cukup dengan mencipta puisi pedesaan, perkotaan, atau genre puisi nyeleneh lainnya sembari sesekali sumbang muka dan baca puisi pada pameran kesenian disanasini

cukup dengan pamer buku dan comot namanama besar sebagai penghias tulisan sembari sesekali menyoal isu minor yang tengah menjadi viral

ya ya begitulah. bila beruntung, julukan aktivis akan sama mudahnya tuk diperoleh

jadi,

janganlah kau terkena penyakit gumunan begitu, sayang

jangan kerna matamu dibikinkan puisi, kau lantas merasa menemu surga

lihatlah,

di kota ini orangorang terlampau mudah menjadi penyair

cukup dengan menulis puisi bernada peduli dan mengatasnama kemanusiaan, maka panggung penuh sorot lampu menjelma keniscayaan

sayang, tak ada yang pernah benarbenar bisa merasai empati kalau tak pernah benarbenar mengalami sendiri

bila antara tulisan dan perbuatan tak sejalan, maka segala tak lebih dari omongkosong-

laiknya hubungan kita. aih,

     hingga berapa purnama lagi mesti kunanti kedalaman matamu?

ya ya begitulah. ini bukan film, sayang. jujurlah. berbekal katakata, cinta tak pernah sejati menjadi

maka,

janganlah kau terkena penyakit gumunan begitu, sayang

jangan kerna matamu dibikinkan puisi, kau lantas merasa menemu surga

sadarilah,

di kota ini orangorang terlampau mudah menjadi penyair

oh bukan… tentu bukan. aku tak sedang membicarakan lelakimu,

yang penyair itu

tentu saja. aku tak bisa seromantis lelakimu, yang penyair itu, bilamana olehnya, matamu yang candu mampu beralih menjadi puisi syahdu,

     aku selalu jatuh cinta pada matamu. mata yang menggenggam malam. mata yang merupa kekunang.

ya ya begitulah. sungguh dahsyat puisi lelakimu, yang penyair itu. dan aku yang tak kuasa mengingkari itu

duh,

namun bila kau kira tulisan ini lahir kerna pedihku sebab kau jatuh pada lelakimu, yang penyair itu, aku bisa apa

masihkah paham belum kau temui juga

kala aku menulis A maka aku sedang berbicara A’

kala aku menulis A’ maka aku tak sedang berbicara A’

 

begitulah enigma bekerja, sayang. belum cukupkah bukubuku itu untuk menjadikanmu Alan Turing,

barang sejenak saja?

 

*140616 | 21:16

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s